Selamat Datang!
TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan merupakan isu yang selalu menarik, karena kepemimpinan sangat erat
kaitannya dengan kesejahteraan umum, kepemimpinan didefinisikan sesuai dengan
perkembangan peradaban dan realitas sebenarnya dalam perspektif peneliti.
Sehingga, kebanyakan penelitian kepemimpinan hanya menyentuh aspek-aspek
tertentu atau berada pada bidang-bidang tertentu.
Ada beberapa pendekatan / teori dalam
menganalisa kepemimpinan, yaitu:
Teori ciri/sifat (trait theory) yang beranggapan bahwa seseorang harus memiliki sejumlah ciri tertentu
agar dapat menjadi seorang pemimpin yang efektif. Kepemimpinan hanya
dapat dijalankan oleh seseorang yang memiliki keturunan dan bakat dari
lahirnya.
Teori
Kepribadian Perilaku, salah satu penelitian yang menjadi tonggak
teori ini adalah teori yang dikembangkan oleh Universitas Ohio State dan
Universitas Michigan. Salah satu dari kesimpulan penting dari teori ini
adalah bahwa Pemimpin
itu dapat dididik/dipersiapkan.
Teori Situasional, yaitu teori yang
menyatakan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang sangat dipengaruhi oleh
situasi dan kondisi yang ada. Pendekatan ini mensyaratkan pemimpin untuk
memiliki keterampilan diagnostic dalam perilaku manusia.
Terdapat beberapa model kepemimpinan
situasional, yaitu diantaranya adalah :
Path Goal
Theory (Robert J. House) bahwa model kepemimpinan yang efektif perlu
menyesuaikan dengan karakteristik tugas dan karakteristik bawahan. Fokus
pendekatan model Jalur-Tujuan ini pada fungsi-fungsi motivasional pemimpin.
LPC Contingency Model. Model kepemimpinan yang disampaikan oleh Fiedler mengenai efektivitas kepemimpinan dengan melakukan pengukuran dan interpretasi berdasarkan skor kedekatan hubungan pemimpin-bawahan, position power dan struktur tugas.
LPC Contingency Model. Model kepemimpinan yang disampaikan oleh Fiedler mengenai efektivitas kepemimpinan dengan melakukan pengukuran dan interpretasi berdasarkan skor kedekatan hubungan pemimpin-bawahan, position power dan struktur tugas.
Leader Member
Exchange Theory. Model kepemimpinan ini menjelaskan
bagaimana pemimpin berperilaku berdasarkan hubungan pertukaran yang berbeda
antara bawahan dari kelompok pendukung dan bukan pendukung.
Hersey and
Blanchard Situasional Theory. Pada
dasarnya perilaku pemimpin terdiri dari perilaku mengarahkan dan perilaku
mendukung. Berdasarkan kedua perilaku tersebut maka perilaku kepemimpinan
dapat dibedakan menjadi direktif (perilaku ini ditandai oleh tingginya pengarahan dan rendahnya
dukungan), konsultatif (perilaku pemimpin ditandai oleh tingginya pengarahan dan dukungan), partisipatif (perilaku pemimpin ditandai oleh rendahnya pengarahan dan tingginya
dukungan), delegatif (perilaku pemimpin ditandai oleh rendahnya pengarahan dan dukungan).
Teori Motivasi
X dan Y Mc.Gregor. Kepemimpinan yang efektif akan
disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Untuk bawahan yang
bertipe X, dengan karakter malas, menghindari tanggung jawab pekerjaan, tidak
melaksanakan tugas dengan baik maka perlu diarahkan dengan gaya kepemimpinan
yang tegas. Tetapi untuk bawahan yang bertipe Y dengan karakter kreatif,
menikmati pekerjaan, bertanggungjawab dan dapat mengarahkan dirinya sendiri untuk
melakukan tugas maka perlu diarahkan dengan gaya kepemimpinan yang demokratis.
Teori Motivasi
“tiga kebutuhan” McClelland bahwa hal-hal utama yang memotivasi dalam kerja adalah kebutuhan akan
prestasi atau usaha (need of
achievement), kebutuhan akan kekuasaan (need of power), dan kebutuhan akan persahabatan atau kolega (need of affiliation).
TEORI KEPEMIMPINAN KONTEMPORER
Teori Kepemimpinan kontemporer merupakan
teori yang dikembangkan baru-baru ini, ada beberapa teori kontemporer dalam
kepemimpinan yang dapat disampaikan disini, yaitu. Teori atribusi kepemimpinan,
Kepemimpinan kharismatik, dan Kepemimpinan transformasional.
Teori Atribusi Kepemimpinan mengemukakan
bahwa kepemimpinan adalah kemampuan pemimpin mengelola sifat-sifat/ciri/latar
belakang orang-orang yang dipimpinnya sehingga dapat dipengaruhi untuk
melakukan sesuatu demi kepentingan organisasi.
Untuk mencapai kepemimpinan yang efektif seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku para bawahannya, ia mutlak perlu mengenali karakteristik, kepentingan, kebutuhan, kecenderungan perilaku dan kemampuan mereka.
Melakukan hal tersebut jelas tidak mudah karena sesungguhnya manusia adalah mahluk yang sangat kompleksitas. Kemampuan kepemimpinan yang fenomenal dan cerdas merupakan dasar pemikiran dari teori atribusi kepemimpinan.
Untuk mencapai kepemimpinan yang efektif seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku para bawahannya, ia mutlak perlu mengenali karakteristik, kepentingan, kebutuhan, kecenderungan perilaku dan kemampuan mereka.
Melakukan hal tersebut jelas tidak mudah karena sesungguhnya manusia adalah mahluk yang sangat kompleksitas. Kemampuan kepemimpinan yang fenomenal dan cerdas merupakan dasar pemikiran dari teori atribusi kepemimpinan.
Pengertian Atribusi adalah :
1) Suatu sifat yang menjadi ciri khas suatu benda atau orang atau dapat pula diartikan sebagai suatu proses bagaimana seseorang atau seorang pemimpin mencari kejelasan sebab-sebab dari perilaku orang lain atau bawahan.
2) Atribusi juga merupakan sebuah teori kognitif yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana seorang manajer atau pimpinan menginterpretasikan informasi mengenai kinerja seorang bawahan dan memutuskan bagaimana akan bereaksi terhadap bawahan tersebut.
3) Persepsi sosial yang menjelaskan apa yang ada dibalik gejala/sikap/perilaku yang tampak secara inderawi pada individu. Sementara itu,
4) Atribusi disposesi adalah kemampuan, keterampilan atau motivasi internal pada individu yang secara umum diidentifikasikan dengan perilaku seseorang/individu.
1) Suatu sifat yang menjadi ciri khas suatu benda atau orang atau dapat pula diartikan sebagai suatu proses bagaimana seseorang atau seorang pemimpin mencari kejelasan sebab-sebab dari perilaku orang lain atau bawahan.
2) Atribusi juga merupakan sebuah teori kognitif yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana seorang manajer atau pimpinan menginterpretasikan informasi mengenai kinerja seorang bawahan dan memutuskan bagaimana akan bereaksi terhadap bawahan tersebut.
3) Persepsi sosial yang menjelaskan apa yang ada dibalik gejala/sikap/perilaku yang tampak secara inderawi pada individu. Sementara itu,
4) Atribusi disposesi adalah kemampuan, keterampilan atau motivasi internal pada individu yang secara umum diidentifikasikan dengan perilaku seseorang/individu.
Namun, seringkali terdapat kesalahan persepsi
atau kesimpulan yang salah dalam menilai perilaku orang lain. Hal ini dapat
ditemui dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengamati perilaku orang lain
dan segera mengambil kesimpulan dengan tidak berusaha mencari kejelasan apa
yang menyebabkan perilaku orang tersebut menjadi seperti itu dan tidak jarang
dalam mempersepsikan perilaku orang lain tersebut sesuai gambaran yang hanya terlihat
saja, misalnya apabila melihat orang memakai baju merah, orang tersebut
dipersepsikan sedang senang hatinya atau sedang jatuh cinta dan apabila memakai
baju hitam dipersepsikan sedang berduka. Kenyataannya, apakah memang seperti
itu?
Dalam pengertian atribusi, persepsi yang
tidak didasarkan pada suatu penyebab (alasan tertentu) tingkat subjektivitasnya
tinggi, kecuali bilamana orang yang memakai baju merah tersebut karena warna
merah merupakan warna favoritnya begitu pula dengan baju hitam. Ia memakainya
karena ada keluarganya meninggal, penyebab itulah yang mempunyai nilai
atribusi.
Di samping itu sering pula terjadi distorsi
persepsi antara orang yang satu dengan orang yang lain dalam menilai perilaku
orang lain. Hal ini dikarenakan penyebab kesalahan dicari dari perilaku
orangnya bukan dari penyebab lingkungannya.
Ada beberapa Teori Atribusi, di antaranya
yang hingga kini masih diakui oleh banyak orang, yaitu berikut ini.
1. Teori Penyimpulan Terkait (correspondence Inference), yakni perilaku orang lain merupakan sumber informasi yang kaya. Perilaku yang diamati secara khusus adalah :
a. Perilaku yang timbul karena kemampuan orang itu sendiri, contoh : kasir yang cemberut, satpam yang tersenyum.
b. Perilaku yang membuahkan hasil yang tidak lazim, contoh : kebiasaan ibu “P” selalu bekerja individual dan hanya dapat bekerja maksimal pada waktu sore hari.
c. Perilaku yang tidak biasa, contoh: seorang pelayan toko menunjukkan toko lain yang merupakan saingannya kepada pelanggannya.
1. Teori Penyimpulan Terkait (correspondence Inference), yakni perilaku orang lain merupakan sumber informasi yang kaya. Perilaku yang diamati secara khusus adalah :
a. Perilaku yang timbul karena kemampuan orang itu sendiri, contoh : kasir yang cemberut, satpam yang tersenyum.
b. Perilaku yang membuahkan hasil yang tidak lazim, contoh : kebiasaan ibu “P” selalu bekerja individual dan hanya dapat bekerja maksimal pada waktu sore hari.
c. Perilaku yang tidak biasa, contoh: seorang pelayan toko menunjukkan toko lain yang merupakan saingannya kepada pelanggannya.
2. Teori Sumber Perhatian dalam Kesadaran
(conscious intentional resources) bahwa proses persepsi terjadi dalam kognisi
orang yang melakukan persepsi (pengamatan). Menurut Gilbert dkk (1988),
atribusi kesadaran ini harus melewati tiga tahapan, yaitu: kategorisasi,
karakterisasi, & koreksi.
3. Teori atribusi internal dan eksternal
dikemukakan oleh Kelly & Micella, 1980, yaitu teori yang berfokus pada akal
sehat. Menurut teori ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, apakah suatu
perilaku beratribusi internal atau eksternal, yaitu:
a. konsensus;
b. konsistensi;
c. distingsi atau kekhususan.
(sumber Drs. Enceng, M.Si dan Dra. Harmanti, M.Si, 2009)
a. konsensus;
b. konsistensi;
c. distingsi atau kekhususan.
(sumber Drs. Enceng, M.Si dan Dra. Harmanti, M.Si, 2009)
Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan
lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau tranformasi internal
dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan
sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika
seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri
(inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan
dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika
keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah
seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau
jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang
dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership
from the inside out ).
Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan
oleh pangkat atau jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul
dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi
pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarga, bagi lingkungan pekerjaan,
maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya.
kren,,
BalasHapus